TANGIS SRIKANDI

“Bisma. Bisma. Keagungan itu untuk apa akhirnya?” Bisik Srikandi di
deru kereta seusai pertempuran. Ia ingin merinci rasa hormat, cinta
dan budi Kurusetra saat gelap turun berkabung di senja muram.
“Kekalahan bukanlah kematian. Keagungan adalah nafsu kita,” cetus
Judistira di medan kemenangan.
Srikandi segera membasuh darah di wajah, dan lelah ke lengang malam.
Ia mengenang pedih perempuan terkatung-katung di hutan, sakit dan
tua dan susut jadi pohon kesetiaan.

96-05

RAHWANA & SINTA

“Sinta, tanggalkan kainmu!” Letup sepuluh mulut dasamuka itu penuh
liur.
“Dimana kemaluanmu,” sentak Sinta. “Apa negerimu sebatas itu….”
“Cukup! Kemaluanku ialah tubuh meniduri takutku….”
Kayangan senyap. Menatap pedih selangkangan wanita.

97-05

SINTA

“Aku cuma penumpang takdir kendaraan lelaki,” keluh Sinta.
“Buktikanlah lewat api,” sembur Rama.
Mereka ngeri.
“Mengapa manusia tak pernah puas,” geram Sugriwa.
“Cinta itu melintasi samudra,” tukas Wibisana.
“Ia rela mati untukmu, Paduka,” tangis seorang dayang.
Rama tak sentak.
Tapi saat Anoman berkata, “keraguan Paduka menelan keyakinan …”
Rama menatap panas api yang menghanguskan itu….
“Rama sediakan api itu bagiku!” bentak Sinta tiba-tiba. “Tapi bukan
untuk kesucian….” Matanya memercikkan api

97-05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: