SAJAK DI WAKTU HUJAN

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang
sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting
bagian yang tak kuingin.

hari itu hujan curah tak begitu deras namun lama,
kaca jendela berembun hingga tak perlu juntai tirai
sebagai selubung, tak akan ada orang yang melihat
kita, bisikmu
lalu kau buka kancing-kancing baju dengan tangan
gemetar
memperlihatkan kerumunan tahi lalat yang kau
rahasiakan
di sisi kiri payudaramu yang perawan menawan
kau tuntun tanganku menghitungnya satu per satu
tetapi aku gagal menyebut jumlah.

setiap hujan seperti ini, aku berkeringat teringat
hangat tubuhmu, dan meski kukatup mata sepenuh tutup
sedikitpun tak ada yang terlupa, seluruh benar-jelas
selalu

tahi lalat yang tak pernah kutahu jumlahnya itu
kini menjelma jutaan belatung yang tak kenal kenyang
dan usiaku adalah bangkai-bangkai kucing dan anjing

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang,
di saat-saat hujan begini, sudah ada seorang lain
perempuan
yang pahanya jadi bantal dan tangannya mencabut
uban-uban di kepalaku.

2005

AWALNYA SANGAT SEDERHANA

awalnya sangat sederhana
hanya bukit dengan hijau rumputnya

lalu kita tiba pada pertanyaan
:bangunan apa sebagai tetanda?

cinta, katamu, adalah hiruk-pikuk kota
lalu kau dirikan restoran dan caf้ dengan musik
berbahasa asing,
bioskop dengan film-film eropa dan amerika,
mall dengan etalase-etalase yang mengeringkan kantong,
dan hotel yang kasurnya membuatmu tak pernah lelah
bercinta.

tetapi aku lebih suka cinta itu dalam dan sepi,
maka kugali sebuah perigi di kaki bukit
yang meluruhkan gerah
yang membasahi dahaga
dan membuat rumput berbunga

awalnya sangat sederhana
hanya bukit dengan riang ternaknya

tetapi seperti yang kuduga
riuh kota akan membuatmu bosan dan lelah
dan kau runtuhkan semua yang berdiri
semua yang kau bangun sendiri
lalu pergi mencari tanah bukit yang lain
melupakan cinta
dan aku yang tak mengerti

sementara perigi tak bisa dipindahkan
ia akan tetap tinggal meskipun kota telah mati
membuatku terkurung di dasarnya
dan airmataku jadi mataairnya.

2005

WALAU WAKTU TELAH JAUH, JUGA KAU

apa yang paling kau suka dariku?
pertanyaan itu paling sering kau ajukan.

meski sudah tahu jawabannya,
kau merajuk manja jika aku tak mengatakannya

:deretan gigimu, saat kau tersenyum!

lalu kau, dengan malu-malu, tersenyum,
dan setelahnya menawarkan ciuman,
jika kebetulan tak ada orang yang melihat,
sebagai semacam hadiah atau ucapan terima kasih

walau waktu telah jauh, juga kau,
rapat rapi geligi itu adalah penjara
dengan jeruji yang terlalu kuat bagi jemari
aku tak bisa meloloskan diri.

2005

SAJAK MATI LAMPU

empat tembok yang berdiri mengepung
seperti ditumpahi tinta atau cat hitam
lampu pijar matahari kecil itu,
yang lebih senang kau sebut bintang,
tak lagi kulihat bergantung di langit kamar

inilah yang kuminta di setiap doa
kamar gelap dan kau bisa kubayangkan
datang dan telentang di sisiku
mengeluhkan haidmu telat seminggu,
sedikit perih di sekitar payudaramu,
atau sekedar memintaku mengelus rambut
atau punggungmu.

inilah yang kutunggu di setiap malam
alam kelam dan aku bisa menangis
sambil mengulang-ulang namamu
tanpa seorangpun melihat airmataku

di saat yang sama, biar kutebak,
apa yang sedang kau lakukan,
kau menyalakan sebatang lilin
dan membaca ulang puisi
yang kuselip di saku jaket biru tuamu,
sesaat sebelum tangan kita saling melepas,
sambil sesekali menggigit bibir
dan mendongak menahan tangis

atau kau sedang khusyu meminta
agar lelampu segara kembali bercahaya
sebab kau tak mampu menahan kenangan
yang melayang-layang ingin membawamu terbang
pulang.

2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: