malam terindah*
– ibu

mari, masuklah ke dalam mataku
perempuan itu tersenyum
matanya bersimbah darah
ketika tubuhku menyeruak ke sebuah ruang
serupa bola mata
yang bertahuntahun tak kurawat dengan rapi

kosong. sepi. rindu.
tangis yang bertahuntahun
tak mengalir, tak terdengar
bahkan meski sepotong isak
tak bergetar

ayo, masuklah ke dalam hatiku
perempuan itu menyeka
mataku yang bersimbah darah
saat cintanya menggangsir sebuah ruang
serupa palung kalbu
yang berabadabad meranggas mendekap sepi abadi

girang. warna. kecup.
cinta yang bertahuntahun
tak mengalir, tak terdengar
kali ini berpendar menggeletar
: nak, ijinkan aku menemui kekasihku

jaga adikmu jaga ayahmu
jaga istri dan anakanakmu
jaga cintaku padamu
dengan tak menangisiku

kelak, tiba saat kau akan
menyeka darah di matamu
dengan secabik malam terindah
yang direnda malaikat
dari doadoa yang selalu kurajut untukmu.

jakarta, 31.01.06,
02.10 wib.

rembang gelisah
– ayah

langit terang. tapi badai lebih dulu meletus di tubuhnya
yang belum renta. 250 km per jam. wajahnya jingga menahan gempa,
di dalam jiwa.

: nak, maafkan aku saat kau kecil dulu
aku biarkan kau tenggelam di batanghari
dan kau berjuang mencari pegangan sendiri
tanpa sedikitpun aku basahi kakiku
yang kukuh tertancap di lebuh.

maafkan aku saat kau kecil dulu
aku biarkan kau berkelahi di bukit sepi
dengan pemuda yang badannya dua kali tubuhmu
meski kau berkalikali minta tolong padaku
kubiarkan bibirmu pecah, pipimu lebam
engkau tersungkur berulang kali
dengan air mata yang terus mengalir di pipimu
mengharap bantuan

kubiarkan tubuhmu memar sampai
kau merasa tak ada jalan lain kecuali bangkit
melindungi tubuhmu yang kusut masai sendiri
dan aku saksikan keajaiban itu
tubuhmu yang lemah, tibatiba berpijar
dan kembali tegak seperti pilar
kau melawan
kau melawan pemuda yang badannya dua kali tubuhmu,
keponakanku itu.
dan aku saksikan keajaiban itu terus berlangsung
kau sarangkan tinju kecilmu di mulutnya yang besar
seperti kau warnai buku gambarmu dengan krayon merah darah.
kau buat pemuda di depanmu itu mulai gentar
dan gemetar, karena kau terus menyerbu
dengan kepalan kecilmu yang mulai terkelupas
dan bibir pecahmu yang terus mengalirkan merah.
kau tak pernah menyerah.

: nak, maafkan aku saat kau kecil dulu
aku tak segera mengangkatmu jika kau jatuh
aku tak langsung memelukmu ketika kau sedih
karena itulah pemahamanku tentang lelaki
kau boleh jatuh tapi tak boleh sedih

karena jika kau jatuh dan bersedih,
sementara aku tak ada nanti,
siapa yang akan terus melecutmu untuk bangkit?

:nak, maafkan aku ibumu sudah memanggil
dengan cintanya yang selalu membuatku menggigil
aku tak bisa berlamalama di sisimu

jaga adikmu
jaga istri dan anakanakmu
jaga cintaku padamu
dengan tak menangisiku

karena dalam dunia yang kutahu
tangis akan menyempurnakanmu sebagai manusia
tapi tak pernah menjadikanmu sebagai
seorang lelaki, sebab begitu banyak
tangis yang tercurah karena sakit
bukan karena ingin.

jakarta. 31.01.06
02.35 wib.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: