SAJAK GELANDANGAN DI HARI KELAHIRANNYA

ohoi kota yang busuk, berapa lama kau hitung usiaku?

kenangan-kenangan terhempas, harapan-harapan terampas, mimpi-mimpi terlindas di bawah derit mercy, pesta para anjing dalam jamuan propaganda peradaban yang menjual kelaparan, penindasan, dan kesengsaraan dalam proposal kemanusiaan. lantas tak bolehkan seorang gelandangan merayakan hari kelahiran meski hanya dengan segelas air mata dan serpih-serpih kelaparan?

ohoi kota yang busuk, berapa lama kau hitung usiaku?

topeng-topeng menari mengikuti irama perut dan birahi, slogan-slogan besar kemanusiaan, pembodohan dari balik baliho intelektual, anarki jargon perlawanan, lantas tak bolehkan seorang gelandangan menyanyikan lagu cinta walau tak melankolik sekedar merayakan sepenggal nafas dalam hidup yang tercekik?

ohoi kota yang busuk, berapa lama kau hitung usiaku?

orang-orang miskin di dalam gedung dan gudang kekayaan, orang-orang biadab di balik spanduk hak asasi dan perjuangan, pembunuh di balik pangkat dan seragam, orang bodoh dalam toga kebijaksanaan, lantas tak bolehkan seorang gelandangan merasa merdeka atas nama cinta dan kejujuran?

bekasi, 09 agustus 2005

BBM, 2

ribuan orang mengantri di depan mulut penguasa yang mengibarkan harapan, keadilan,
kesejahteraan, bagi-bagi uang tanpa juntrungan. janji tinggal panji-panji yang berkibar
gagah tapi tak cukup lagi untuk membangkitkan birahi. ohoi, kaum cendekia, kaum logika, kaum data-data sudah cukupkah mengobral analisa  itu ini, mengoral atas nama itu ini, menghitung demi-demi, sementara ribuan orang berteriak kepanasan dipanggang amarah

orang miskin dipuja jadi bunga bual singgasana, podium, televisi dan iklan-iklan yang
mengkilap, memantulkan bayangan BMW dan angka milyaran dolar yang dikeruk para maling berkedok penguasa, pengusaha dan ulama. orang miskin yang dipuja dalam deretan  janji dan puisi, digencet kenyataan atas nama angka-angka yang muluk. tapi jangan kuatir orang miskin terbiasa hidup getir, daya tahan yang luar biasa terhadap amarah dan rasa sakit demi ketentraman maling maling maling maling. maka, teruslah berretorika sampai mereka tak sanggup lagi bicara dan turun ke jalan mengacungkan arit, parang, atau kepalan tangan.

orang miskin, dalam bangkai kebangsaan dalam bangkai kemakmuran: siapa peduli, he?

bekasi, 30 september 2005

BLACK NIGHT

malam kurapan menggusah seekor anjing kelaparan
yang hendak mencuri sepotong bulan
dari sela gigi raja sialan

hujan ketakutan
menepi ke pintu kuburan

Bekasi, 01 November 2004

SOLILOKUI SUMPEK

sepotong lapar di bantaran kali dan hujan pagi pagi, peradaban yang tak tercatat dalam buku agenda sidang yang melulu berisi kas bon plesir dinas, mobil kinclong dan jalan-jalan yang  tersendat oleh ketidakbecusan dan omong kosong bla…bla…bla… mestikah kepalan-kepalan tangan menyumpal mulutmu untuk membuktikan keberadaan nasib yang tergilas oleh angka-angka statistik, teori-teori, simulasi dan semua bla bla bla yang tak pernah masuk dalam kamus kemiskinan dan kehidupan yang terserak di rumah-rumah petak, gubug kardus, bantaran kumuh dan semua tempat yang tak sempat terjamah kenecisan dan kegenitan intelektual feodal.

sepotong lapar, yang kemudian menjadi basi di piring sarapan pagi menara gading kampus-kampus yang penuh perkelahian dan premanisme, teriakan dan poster-poster coreng moreng penguasa negeri yang merasa paling berhak mengangkangi rejeki berjuta-juta kepala yang dimiskinkan oleh kenaikan harga dan diskon kemanusiaan gila-gilaan. tunggang-menunggangi, media bikin opini, rakyat miskin mulutnya dikencingi dengan subsidi seratus ribu. pahit mencekik jiwa raga, merindukan sepotong singkong tumbuh di benak yang

melompong dihisap perselingkuhan penguasa dan pengusaha: swasta swasta swasta…. negara

keplok-keplok menyaksikan rakyat terbongkok-bongkok menyeret hutang yang tak pernah terlunasi.

: ini perkara harga diri dan kemanusiaan. kesabaran bukan berarti memilih mati tanpa
perlawanan

bekasi, 21 desember 2005

YAHUKIMO

tanah hijau dan gunungan emas, butiran sagu dan  potongan ubi, perut mengerut sebesar
kelingking digarong tamaknya persekongkolan busuk kepentingan-kepentingan, “ayo, sedot otaknya! sedot perutnya!”

maka sekian juta orang terdampar di peradaban koteka, melahirkan komoditas eksotisme wisata sisa peradaban purba, megalitik, mesolitik atau apa saja yang bisa menghibur kaum kapital, kolonial dan feodal agar dianggap lebih berbudaya.

sungai bening, hutan hening, digaruk seribu buldoser jadi lubang kosong melompong di dada, menyematkan tanda ketertindasan di bawah bayang-bayang upacara dan hajatan besar. kuala kencana, jakarta, amerika, adakah di sana suara kelaparan itu bergema, mengetuk dinding dinding nurani, atau cukup sekedar simpati omong kosong dan air mata bohong.

suatu ketika kelak, barangkali papua akan tergambar di peta sejarah anak cucu sebagai sebuah kenangan tentang hutan-hutan yang perawan, tentang manusia yang dijadikan obyek tontonan, dan kita akan tergeragap ketika mereka didatangi mimpi buruk dan bertanya: mengapa, bunda?

bekasi, 21 desember 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: