Migrasi Kupu-Kupu

Dulu
Kala musim panen padi hampir tiba
Selalu ada
Migrasi kupu-kupu dari utara
Menerjang bentangan senja
Dengan warna-warni mengudara
Di atas pusaran desa
Adagio disambut allegro; di irama
Riuh geriap-geriapnya
Ribuan, bahkan jutaan
Memenuhi lautan kehidupan
Hingga bocah-bocah desa selalu berebutan
Menangkapi kehidupan ceria di harapan

Kini,
Panen sudah usai
Lemah lunglai
Tak satu pun kupu menderai
Mungkin karena sejarah telah memuai
Manusia terlalu ramai
Memperebutkan dunia damai
Padahal dirinya badai
Dan dengarlah: tengarai bocah-bocah belum usai
Menjelma menjadi kupu-kupu
Bermigrasi ke kota baru
Jejak mereka  tumbuh lugu
Di perempatan berdebu

Jerman, 28.01.06

Udaralah Yang Mengeja

udaralah yang mengeja
semak-semak menjadi rata
daun-daun menua – sebelum waktunya
sungai-sungai kering mengeronta
dan batu-batu berkata
mengapa ada panas udara
pada bengkak lidah dan dada
ketika hutan jiwa
telah menjadi hamparan duka

jerman 29.01.06

Katharsis Dalam Poetica

Kegembiraan
Kepenatan
Kepedihan dan
Kegentaran ini
Mengalir dari puncak ke harmoni desa
Terayun-ayun terbawa
Di sebuah pentas sandiwara
Kegembiraannya mengalirkan tetesan bahagia
Kepenatan pudar bersama riuh daun jendela
Kepenatannya berteduh di tragedi semesta, tidak hanya di dirinya
Kegentaran tumbuh bersama pahlawan medan laga

Jerman 01.02.06

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: