Mengeruk, Mengamuk, Meremuk

menjelang dhuha di rambut kota tanpa nama
bising menyapa hening tertawa🙂
ada kering terjemur di rongga hati

kota tanpa nama berpenghuni nama-nama
nama yang sibuk nama yang remuk
pada akta kelahiran tertera nama sibuk, terus mengeruk
pada akta kelahiran tergores nama remuk, terpaksa mengamuk

kami-kami yang sedang mengusung batu membangun gedung
mempondasi dengan ribuan tangkai bunga kata tertata
oleh nama-nama tak terhingga,
istirahat dalam bingung
memandang bimbang gedung
yang berdiri tak cukup tinggi
untuk menampung lembaran-lembaran akta kelahiran
yang bertumpuk menjulang

mengeruk ya meremuk
mengamuk ya meremuk

amuk yang bertumpuk berserakan di hamparan
pasir tepi pantai merindukan undang-undang matahari😦

surabaya, 23 januari 2006

Darah Diperban Nanah

Nah, wajah-wajah sumringah
disorot sinar temaram rupiah
cahaya yang hanya sebuah

Nah, keringat seharga donat
donat semahal jimat
tapi keringat tak senilai sertifikat
ruh kalah semakin gerah

Nah, tanah kubur semakin merah
mayat-mayat membunuh amarah
relokasi menghidupkan mati

Nah, siapa bersalah ?
Nah, kepada siapa berserah ?

ilalang terluka
Nah, balutlah dengan derita
rumput-rumput berdarah
Nah, perbanlah dengan nanah
Surabaya, 28 januari 2006
Aransemen Luka

Sehelai daun menguning di ujung ranting
setangkai ranting gapuk mongering di batang hening
sebongkah batu kuning gading memutih tergerus sering
aktivitas risau menyendiri di rongga hati
sibuk mengaransemen jazz jadi india
disobeknya luka, diperban dengan cuma

Surabaya, Januari 2006

Konser Kemiskinan

mereka berbaris mengantri beras, tapi tak beres-beres
kaki-kaki mereka kaku-kaku, sebab keki memaki-maki
dengkul-dengkul mereka dangkal-dangkal, menahan dongkol
leher-leher mereka menjenjang lahar, mengutuk lahir
pinggang-pinggang mereka terpanggang, diatas panggung
konser kemiskinan

bibir-bibir bubar
hidung-hidung hadang
rambut-rambut rambat
muka-muka maki
baju-baju baja

diantara mereka
ada seorang ibu, tak sebatangpun iba padanya
lelah menggendong bayi, calon buya
si bayi melirik nenek renta, si bayi keluar tahi
si nenek runtuh dalam barisan
jantungnya berhenti, darahnya tertawa
atas kebetahannya mengantrikan kebutuhan
bayi menangis, nenek finish sambil meringis
berdua, menjadi saksi penuntut siksa

orang-orang segan keluar barisan, dianggapnya itu pemborosan
antrian masih panjang, kartu miskin lambang kemenangan

surabaya, 26 desember 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: