MIMPIKU DI BUMI ETAM

mimpiku di bumi etam
adalah pertiwi yang bernanah
darah menetes,gaunnya terkoyak
tercabik-cabik ranting kering
lalu menyisa luka hitam
dan airmata kerontang

mimpiku di bumi etam
adalah bukit-bukit yang terpanah rebah
rimba perawan yang terjamah kasar
terlentang hingga berbilur
rimba yang ditelanjangi
dan kita jumawa di atasnya
mengacungkan tongkat sihir
meniup serpihan tanah
menjadi hamburan permata
bagi tuan dan nyonya
menjelma surga semu
untuk jelata yang terlupakan

mimpiku di bumi etam
adalah tanah yang berkeringat
dengan peluh yang bertimbun
merayap di selokan kota
bercampur liur
di bibir membiru yang gusar
lalu, peluh dan liur itu membuncah
menjelma sepetak telaga hitam buram
menghampiri kita dengan jeritan
yang menyayat musim

dan, di ujung mimpiku
debu trotoar menghampiri
dan membisikku satu rahasia:
di sini, tak pernah ada mimpi

maka semenjaknya,
aku takut bermimpi di sini!

PERJALANAN (1)

samarinda – teluk dalam – sebulu
berjam-jam kami mengeja debu
matahari telah mengupas atap kendaraan
juga menggosongkan kepala para pekerja kayu
:ini khatulistiwa yang sebenarnya!
lalu kamipun mentertawakan semak-semak
di sisi jalan berdahan dan berdaun debu

musim yang gelisah,
segelisah hati para transmigran
mengganti lembu dengan truk-truk kayu
mengganti lumbung padi dengan mini-sawmill
lalu batang-batang padipun
hanyalah artefak mimpi yang tak jadi
mimpi yang memimpikan mimpi
seperti lagu yang ringan:
transmigran tak bertani
transmigran tak berladang

kamipun menziarahi rerumputan liar
dengan senyum dan duka yang beradu

PERJALANAN (2)

mahoni tua itu ternyata masih mengenaliku
dan segera saja kami akrab berkelakar
tentang lelaki yang hatinya gersang
seperti tebing-tebing kapur
dengan garis hitam melintang di kejauhan
lalu aku bilang: anginmu kering
seperti musimmu yang kering
bahkan hujan semalampun
adalah hujan yang meradang

dan layaknya arus di riam udang
ceritamupun mengalir deras ke uratku
tentang rimbamu dulu yang bagai dongeng
dengan mata air dari kayangan
burung-burung dan siamang yang bergelantungan
juga hantu-hantu pulau kumala
yang mengunjungimu di akhir pekan
aku katakan: itu lalu!
rimba-rimba itu telah lari
dikejar para pendatang
pulau itupun, kau tak mengenalinya pula
maka, inilah kau
yang tersisa dari mimpi itu

aku ceritakan tentang banjir di kotaku
banjir yang menggelepar
banjir yang menggenang
dari tetesan liur para pemburu proyek
menghajar gunung dan menimbun rawa
maka, inilah kita
yang tersisa dari mimpi itu

PERJALANAN (3)

akupun berkemas
melipat senyum di dalam koper
:selamat berjumpa kembali dengan debu

perpisahan ini tak akan dikenang
seperti daun yang jatuh ditiup angin
seekor tupai dan ranting akasia
meringkuk ditelan sepi
seperti keringnya mimpi kami
tentang warna-warna emas bulir padi
dan sekawan pipit yang bernyanyi
tentang panen dan orang-orangan sawah

kembali kami menghitung debu
kaca kendaraan hanyalah bentangan
kanvas coklat yang buram
roda yang menderik
dan debu yang bergulung,
seperti inikah negeri sihir?

kali terakhir,
kami menyapa ladang kering
dan rumput liar
dengan mimpi yang tak lagi disuarakan

Catatan:
– etam: kami (bahasa kutai)
– bumi etam: bumi kami, diartikan sebagai tanah air kami
– teluk dalam, sebulu : nama tempat, sebagian dari daerah tujuan
transmigrasi di wilayah kaltim
– pulau kumala : sebuah pulau di tengah sungai mahakam di wilayah kutai
kartanegara, kini telah berubah menjadi taman hiburan dan resort

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: