Erotisme Dedaunan Dan Hujan Malam

Malam memainkan alunan lembutnya pada tempo yang lambat, tapi langit seperti tak setuju dengan alunan yang mendayu-dayu, dia perdengarkan gemuruhnya seperti unjuk kuasa bahwa dia adalah penguasa atas segala kerinduan.
Lalu rinai hujan perlahan meningkahi alunan yang berbeda tempo ini, dan mengajak dedaunan untuk menari dalam erotisme malam dengan angin sebagai penuntun gerak.

Disini, aku menuliskan segala rindu pada udara basah dan dingin yang memeluk tubuh. perlahan barisan kalimat ini tersusun pada lembar yang telah terlalu lembab untuk terisi tulisan.

Dan pena mulai menarikan tintanya;

pada wanita yang aku cintai :
Wanitaku, tak ada letih yang harus kukutuki habis-habisan, saat aku menuliskan kata-kata ini.

Tak ada getir yang tak harus kita lawan, tak ada resah yg tak harus kita pikirkan, tak ada
ragu yang tak harus kita pendam. Saat itu semua menyeruak dalam perjalanan kita, apakah memilih diam atau biarkan menjadi hiasan lembar perjalanan.

Kita merasakan semua itu dalam benak dan dada kita, menjadi bumbu dalam setiap kehidupan kita, menjadi ingatan dalam perjalanan panjang kita.
Dan kita membiarkan semuanya, lalu tapak-tapak yg kita tinggalkan adalah waktu, menjadi terbuang, menjadi bayangan, menjadi kenangan. Kita yang menentukan itu semua, dan jangan biarkan kegelapan menjadi selimut penutup ketakutan.

rinai telah berganti dengan keheningan seperti malam-malam lalu, peraduan telah menanti dengan kehangatan yang terbatas, sinyal kehidupan telah memutar arahnya untuk mengulang kembali hitungan angka bernama detik, tanpa terlewat sedikit sisa. Dan drama kehidupan memulai episode baru dan sedikit ulangan untuk mengingat.

Wanitaku, didepan terhampar kehidupan yang harus kita raih, genggam, miliki, bahkan bila perlu kita endapkan dalam rongga dada-dada kita. Lalu kita hiasi dengan manik-manik yang kita dapatkan dengan bertukar peluh, kita bingkai dengan warna-warna percumbuan langit dan laut.

Wanitaku, tinta penaku telah memohon untuk menyudahi tariannya malam ini, untuk menyimpan energi rasanya, agar dia tak bosan untuk menari lagi bersamaku malam-malam selanjutnya. Dengan sebuah kecup dan rasa rindu tanpa batas kuakhiri tulisanku ini. Tapi tidak dalam perjalanan mencintai ini. Wanita.
tanpa bintang, Jkt Nov ’05. hujan malam.

Sebuah Lukisan Pada Tembikar Gagal

tak sempat kuucap namaMu, saat langit mencumbu bumi pagi ini.
karena waktu tak mengijinkan aku untuk sekedar mengucap.
ketika:

langit mencumbu bumi
angin menggagahi rumpun bambu
lebah membuahi kuntum bunga
dan kita tenggelam dalam pola pikiran yang selalu sama, tak adakah kerinduan yang harus kita

bagi ?.
kita selalu berbagi tatap mata, bermain bahasa tubuh, tapi tak pernah kita saling menjamah.
terlalu sucikah raga kita ini, yang hanya sekedar tuk saling berbagi rasa.
telah habis hitungan waktu untuk hari ini, tapi kita tetap mematung dalam kesendirian.
seperti lukisan pada tembikar gagal, kita bersandar pada punggung yang berbeda.

Jakarta Saat Malam, 13/01/06

Perbincangan Berjarak Cinta Dan Kasih

tak perlu kita bertengkar dengan menguras emosi
tak perlu kita beragumentasi dengan jiwa yang mendidih perih
karena kita adalah perbincangan pada batas waktu dan batas kota
menembus segala keterbatasan pada kehendak masing2 jiwa
persemayaman cinta telah membentuk pilar dalam benak
menghias keindahan hati tanpa perlu memoles kepalsuan
kita berbicara cinta, tanpa harus kita akhiri dengan senggama
kita berbicara benci, tanpa harus kita akhiri dengan menusuk diri
lalu tawa-tawa lepas kita umbar pada langit yang berhias sendu
jiwa kita menari dalam lenggak-lenggoknya liku jalan tanpa perdu
perbincangan kita adalah cinta yang menempuh jarak dalam hitungan kasih
-dan perlahan menghantar kita dalam peluk hangat bernama keluarga
Bandung ~ Jakarta, 290106

Entah

entah apa yang terpikir pada otak kiriku ini, perdebatan yang tak tentu telah seret bawah
sadarku. kekacauan yang terlintas hanya menjadi pemandangan semu tanpa status. pada sudut sebuah area hampa, lelaki hanya mematung memagari diri. singkirkan abuabu dusta, debudebu kenaifan dan himpitan keraguan. lalu hening bersiap menyelimuti. belukar kelu menyeruak tanpa batasan waktu, coba kekalkan asaasa palsu.wajahku membeku saat deru menyatu membentuk bisu entah apa yang kini membatu, menggebu lalu sedu tertuang tanpa pilu

Jkt, Jan ’05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: