MINYAK MI NYAK

:Minyak
Jangan-jangan minyak sudah menjadi kutukan
Yang lekat dalam hidup keseharian
Seperti tak akan bisa terpisahkan
bahkan ketika kita berusaha memisahkan

:Mi Nyak
Anak-anak kita mendesiskan rengekan
Kitapun hidup dalam kemasan-kemasan
sepertinya nasib larut dalam seduhan
Cepat angkat sebelum kelembekan

Depok, 24 Maret 2005
——————————

MENYARUK IBA

Sepasang tangan telanjang menyaruk sampah
Sepertinya telah dituntaskan segenap daya
Mengais iba dalam sesak kotor dasar kereta
Berhamburan kesah ikatan sapu lidi hitam
Mengurat tanya uang logam di saku kemeja
Menjadi dekam yang bungkam ragu beranjak

“Setumpuk iba mana yang harus kusapa?”

KRL Ekonomi Jurusan Jakarta Kota, 29 sept 2005
——————————

SEPIRING SAJAK

Kami memang hanya bisa menghidangkan sepiring nasi tak begitu putih dan sepotong ikan asin. Mungkin itu memang tak pantas untuk kalian pilih sebagai hidangan makan malam kalangan istana. Kami hanya ingin menghidangkan kenyataan, agar mereka tahu bagaimana beras yang ditanam dengan kegigihan petani, tanpa sumpah serapah walaupun harga pupuk mahal, tanpa menyerah walaupun harga gabah selalu tak pernah layak, selalu tak sebanding dengan tetesan keringat, yang tumbuh subur di persawahan jamrud katulistiwa bisa menjadi tak begitu putih. Siapa yang telah menodainya? Siapa yang telah menghisap sarinya? Apakah air yang mencucinya tak bersih, mungkin diambil sumur yang terkontaminasi, atau dari tampungan air hujan yang telah melewati atap di mana kucing atau tikus berak dan kencing sembarangan, atau air sungai yang teracuni limbah-limbah pabrik, atau air sungai yang menghanyutkan bangkai-bangkai, kotoran-kotoran busuk dan mayat dari pembantaian-pembantaian tiada ujung.
Air yang melarutkan warna putih beras, setelah mendidih menjadi tajin, yang kemudian
menghidupi sekian juta bayi karena ASI tak mengalir, karena ibu-ibu terpaksa harus bekerja keras sebagai buruh pabrik, karena suami-suami mereka yang petani tak punya penghasilan cukup untuk melayakkan sebuah kehidupan.
Kami hanya ingin menghidangkan kenyataan, agar mereka tahu bahwa ikan asin bukan hidangan purba, agar mereka tahu bagaimana nelayan-nelayan menangkapnya, nelayan-nelayan yang nenek moyang kita, yang gemar mengarung luas samudera, gigih menerjang ombak, kuat melawan badai, tapi tak berdaya dalam cengkeraman rentenir, dan semakin tercekik oleh kenaikan harga BBM, sebagaimana duri-duri tajamnya yang bisa melukai gusi, nyangkut di tenggorokan, hingga pembicaraan mereka terganggu, hingga makan malam mereka tak tenang, hingga tidur mereka diselimuti kegelisahan.
Kami memang hanya bisa menghidangkan sepiring nasi tak begitu putih dan sepotong ikan asin. Mungkin itu memang tak pantas untuk kalian pilih sebagai hidangan makan malam kalangan istana, tapi janganlah kalian buang ke tong sampah, karena masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkannya.

Suatu ketika 2004
———————–

SELEMBAR KERTAS DI KACA ANGKOT

Selembar pengumuman di kaca
Kenaikan tarif meminta perhatian
Lelah mataku mengeja

: Mengapa kita harus selalu menerima?

Sebagaimana kita melipat rapi lembaran
Lusuh uang sejumlah angka tertera
Menyusutkan tetesan keringat sebulan kerja
Jauh sebelum kita memutuskan

: Kiri

Sebuah penerimaan dalam
Helaan nafas sepanjang mimpi buruk
Yang menghantui malam

Depok-Parung – 14 Maret 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: