PONDOK AREN

Akankah ada jawaban silahkan masuk
dari belakang pintu
yang sudah cukup lama tak kuketuk?

Dalam kediaman masing-masing
kita seakan lupa saling menyapa
bahkan sekedar bertukar kabar

Darah kita tercucur dari satu hulu
tapi kemudian berpisah di simpang
menuju muara dengan aliran berbeda

Akankah tangan kalian tetap terbuka
menerima penumpang atap
yang belum sanggup hidup merdeka?

SELAMAT TINGGAL, DIAN!

Dian yang menyala sepanjang malam
di pedalaman hutan perawan
padam tersiram tetesan embun,
bergulir dari sehelai daun muda
yang kupetik pada pagi hari.

Selamat tinggal, Dian!

Kini aku tak takut tersesat
karena mentari datang mengganti
menuntun jalanku hingga senja.

Malam nanti aku pasti
sudah tiba di sebuah kota
yang gemerlap dengan cahaya.

Saat itu mataku tentu
tak perlu kerdipmu lagi…

TENTANG SESEORANG

Aku ingin berhenti menuliskanmu.
Bosan aku dengan pena, dan enyah saja kau kertas!
Seperti mengerami mimpi yang tak kunjung menetas…

Digenangi air mata jingga adalah bayangmu.
Aku tersedu karena rindu; ingin bertemu…

(Pondok Aren, 30 September 2004)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: