Larung

Sore sunkist dan sedikit lembab oleh gerimis
mengantar Sobron dan Paris :
Pada langkah cemas sepanjang etalase, trotoar
serta selasar tanah surga yang mengekalkan civitas diaboli
lewat turis dipicis teroris, senyum erotis kapitalis
hingga kalifah akar rumput di ranjang bordil birokrasi
yang jauh dari testimoni lagu nostalgi koes plus!

Langit metropolis tua
Bayangan tumbuh semacam panjipanji dan derap kurusetra
Di laut bernama lonely
nyiur dan kesiur meniupkan uterus Maria
Gairah yang tak juga tergiur Extravaganza,
Komedi Nakal atau dana konpensasi BBM
Melecut alif invansi kesal, lelah dan lelap
dengan dingin betina sundal
memenggal ruh, menghapus aib!
Ada keruh yang luruh oleh debur trubadur
tausyiyah kudus nabinabi dan filsuf
Menuntut Wibisana menuju jantung Rama ketika Alengka
tak lagi menyisakan ratus serta ruang kudus
: Sujud dikedalaman-Nya
Tahbiskan mata hati insomnia!

Nusantara 2005

Blues Guevara
: Ayi Antoko Ratri

Lintanglintang di malam Papua
Meneteskan liur binarung jakun lift-eskalator
atau lengan bermain barbel natkala vibrasi kafahmu
tektonik mengabarkan garis pedang kalifah lewat keberangkatan kereta
sungguh adalah niscaya
Selain gaib khilaf pun tolol cemeti
derap dan derap biadabku
dari kemarau ke hujan
Gedunggedung gendut rencana
jahil tengil sehingga munafik maha tengik
yang menyempurnakan bacin urine selusin lorong
Asyiknya ramerame invansi tanah tua dan papa kita untuk Cordoba
atau mungkin Karbala

Penawaran-kota silih berganti
Cemas, pening dan genting geliat laknat buldoser
menggusur damai kaki lima yang mini
: Impian, ajari ruhku mematahkan jarum jam untuk-Nya!
Hanya dan hanya terjaga Wibisana
Tak ayal, pada bayang mata Simamu yang menjanjikan Babilonia Harun Al Rasyid
kutabuh khianat sekaligus munajat dengan melankoli polifonik
sebelum kaki menginjak Senin yang dingin
Jalaran luka dan luka tak pernah mampu menjelma headline kematian presiden

Indonesia 2005

Transvaganza

Di sebuah kafe ketika sore tak juga menggiring nuftah kesadaran ke relung ibu
Kau bakar selembar geram yang barangkali dendam melankoli dengan kelakar,
wiener kaffe, steak, sampai solilokui
Lonely yang megar gembul susu, roll on, spray,
atau pantat bakpia gadisgadis kencur
menggoda ereksi jiwa yang hancur
digempur badai yang mancur sebagaimana penganggur
: Kita bukan boneka, lembu, apalagi wadal mata hati lenyap lantaran geli!
Laut mengirim bunyi blues diantara bening beling
dan furniture yang dikepung kembang ungu
Maka sebelum bandot senja ngotot merumput matahari
Sebagai satu dari sekian bocah durhaka, tolol dan bangsat
Kau pecut jihad, ruh dan cinta pergi dari dan untuk bumi!

Nusantara 2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: