Pohon Mangga dan Ayah
(oleh: djodi)

pohon mangga dan ayah
pernah bersatu rasa
dalam manisnya manalagi

pohon mangga tua kini
tapi tetap tegar di halaman
memayungi damai rumah dan seisinya

ayah telah lama tiada
tinggalkan galah di gudang
menjadi usang karena tak tergenggam lagi

pohon mangga tua dan ayah
tak mungkin sepasang lagi
satunya masih berdiri, lainnya sudah terkubur

flagstaff, arizona (120505)

“Keinginan Dalam Doa”

Bila waktu punya telinga
Akan kubisikkan sebuah keinginan
Mencium sebuah telapak kaki
Agar kurasa,
Harum dan lembutnya surga ibuku

Bila waktu berpihak pada sebuah doa
Akan kutunggu sebuah kedatangan
Bukan hanya sebuah berita dari ma’lah
Tetapi juga senyum dan tatap kemenangan haji ibuku
Walau itu dari seonggok jasad

flagstaff, arizona (021106)

“Sebuah Keberangkatan”

Akhirnya kereta yang membawa dirimu, berangkat juga
tanpa memberikan kesempatan sedetikpun
pada kecupan yang telah kuterbangkan bersama angin pasifik
untuk mendarat sejenak di pipi cantikmu

Mantra yang selalu kurapalkan dibalik bibirku
tak pernah mempan untuk menghalangi keberangkatan
yang kubenci dan diratapi empat mata angin ciptaan kita
sementara cita itu belumlah terwujud menjadi sebuah bangunan utuh
yang mana kelak menjadi tempat merancang autocad mimpi kita

Pernah kumencoba agar bujuk rayuku didengar
sang masinis, tetapi tak pernah dihiraukan
karena toh akhirnya kereta itu tetap saja melaju
walau pelan,
hingga menghilang dibalik magrib rabu yang penuh dengan misteri
padahal aku belum sempat menuntaskan rindu dendamku yang
tertahan hingga di ubun-ubun

Sekilas aku memang menangkap raut muka yang putih
bersih, ayu, tegar, ceria, tak terlihat derita lagi dan penuh
keyakinan
yang seakan kau telah menerima keberangkatanmu ini
sempat pula bibir pucatmu yang manis berucap,
agar aku kuat memimpin perjalanan yang tersisa
untuk mengantarkan masa depan empat mata angin kita
serta akhirnya,
kau ucapkan selamat tinggal dan membawa pergi cintaku selama-lamanya

Lalu aku yang tertinggal
diam mematung tak tahu harus berbuat apa,
berlari mengejar kereta itu terasa sia-sia
karena lututku telah terendam air mata penyesalan
makin lama airnya makin lengket
seperti genangan jutaan permen karet yang mencair,
kata “jangan tinggalkan aku” yang kuteriakkanpun hanya sampai di tenggorokan saja
karena mulut serasa terkunci
ingin aku tak percaya, tapi tak ada daya

Sungguh ini adalah kenyataan yang terpahit yang harus kutelan
menimbulkan gumpalan rasa bersalah serta kehilangan bersenyawa jadi
satu dalam hatiku,
hingga membuatnya keras dan sesak nafasku
kemudian angin yang bertiup dari empat penjuru menamparku
hingga aku tersadar

Ya, aku harus rela,
bukankah keberangkatan itu telah membebaskan deritamu selama ini?
untuk apa lagi aku memaksanya berhenti
kalauitu hanya memperpanjang penderitaan?
sementara keajaiban itu tak
pernah berpihak pada keinginanku

“Selamat jalan, kekasih. Kelak aku akan menyusulmu”

Setelah kalimat itu berdesis dari bibirku,
tiba-tiba empat pasang tangan mata angin
membantuku untuk keluar dari genangan air mata
penyesalan, yang anehnya tidak lengket lagi
lalu tangan-tangan itu
kugandeng sambil berjalan gontai beriring melanjutkan perjalanan
yang belum selesai.

(07 Mei 2003)

“Senyum Tuhan”

ada senyum
di wajah khaerunisa,
si bunga surga

bukan sekedar senyummnya
mengisi juni ini

sebab Tuhan pun ikut disitu,

sekedar memastikan
masih adakah manusiaNya?

(10 juni 2005)

“Kucium Aroma Setan”
:Munir

saat negeriku di ujung serambi Mekah sana
di amuk ombak gila tanpa akal
hingga ratusan ribu nyawa saudaraku binasa,
aku terhimpit oleh satu tanya
Tuhan, Engkau ada dimana?

tapi sekejap pula kucium aromaNya
bahwa akhir zaman semakin dekat

ketika satu saudaraku si pelacak anak-anak bangsa yang hilang
bervespa tua menyusuri jejak tanpa pernah lelah
mati diracun arsenik sebelum tuntas cita digapai,
aku pun terbelit oleh satu tanya
Tuhan, siapakah dalang pembunuhan biadab ini?

tapi tak lama kucium aroma setan
merebak di antara elite penguasa negeri

siap menebarkan racun lagi
pada korban berikutnya…

-djodi b. sambodo-
(11 Nopember 2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: