Kekasihku

Kekasihku. Sekalah butiran embun disayapku selagi manis madu, susuplah
karena malam penghabisan yang menghujam mataku sebentar lagi datang
dan air mata itu akan menjadi kemarau kering dan begitulah seharusnya
Kesenyapan, ketiadaan dilahirkan bertuan kegelapan
yang ada hanya basmallah-basmallah

Kekasihku. Kan kujemput kau di taman kota
disaat jarum awan memutih tak berkabut
maka aku akan datang berkemeja hijau tanpa jubah
dan pakailah kebaya bunda dan sejumput renda
kemudian tanggalkan dihadapku

Kekasihku. Tak kutinggalkan sehelai rambut pun
yang kau tunggu di rumah bidan dan dikamar penghabisan
yang tersisa hanyalah ludah yang mengulummu di sepanjang senja
karena sayapku patah berkelahi dengan taji mereka

Kekasihku. Senyummu tetaplah kau gantung di ruang tamu
karena malam penghabisan menjemputku pukul sepuluh

(Malang, 17-08-2004)

Kekasihku 2 : Pertemuan

Kekasihku, waktu-waktu tak sempat berbicara kepada kita tentang hal
apalagi berkisah seperti Qays dan Layla
atau bahkan mungkin berkisah bagai Gibran dan Selma
yang kisahnya penuh sesak airmata, ketidakberdayaan, kerinduan yang panjang,
pertemuan-pertemuan rahasia, harapan-harapan yang tak berujung
tapi begitu mempesona

Pertemuan kita, tidak! waktu tak sempat menyusun kisah
kita begitu saja diculik dari tidur malam
dipertemukan di pasar, sambil mengusap-usap mata

Kekasihku, apakah kita akan menggugat waktu
yang selalu sibuk dengan esok dan masa lalu
untuk sebentar mengukir pertemuan kita?
engkau pun menggeleng dan tersenyum

September 2005

Kekasihku 3 : Sajak-sajak kita

Kekasihku, kita begitu berbahagia menulis sajak-sajak perjalanan
meski kisahnya banyak mempersoalkan bocah-bocah yang menangis berebut balon
tapi kita percaya, suatu saat sajak –sajak itu akan mengantarkan kita
di suatu taman yang telah lama kita idamkan
engkau dan aku menanam berbagai bunga
hingga kuncup-kuncupnya menggenapi wangi
di bangku taman itu kita menulis sajak lagi

September 2005

Kekasihku 8 : Pantai

Kekasihku, di pantai pertemuan
selepas dari kembara, kita istirahat sejenak
kita duduk bersampingan memandang langit
bersiap kembara lagi entah kemana
–ke darat ke laut
meski sama-sama dipayungi langit
memilih adalah debar
dan juga cemas
siapa yang bisa berkata disana ada taman
meski tak selalu surga –

di pantai kita membuat puri
dari sekumpulan pasir yang berwarna
di dalamnya kita membuat teka-teki
– atau teka-teki sudah ada sebelum kita bertemu-

Di dalam puri, ruang pertama,
tergantung lukisan sepasang kekasih yang tersenyum

di tikungan tergeletak pisau berlumuran darah

di ruang kedua yang luas, tumbuh ilalang
angin pelan datang bersama bunyi seruling

kemudian di lorong-lorong gelap
tergantung boneka-boneka di langit

berhenti di taman meranggas
dua pasang bibir tak pernah bertemu
berkejaran seperti kupu-kupu

di kamar berwarna terang
seorang kakek berjenggot lebat
membaca puisi tanpa henti

memandang langit
busur panah tiba-tiba melesat
matahari merekah seperti kuncup melati
menggeliat di waktu pagi

tiba di kamar berwarna senja
musim gugur datang
daun-daun letih
jatuh diayun angin yang menangis

Kekasihku, cukupkah itu
bekal buat kita kembara lagi
atau kita hanya puas bermain teka-teki

Singosari, Oktober-November 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: